RSS

4. Hukum Dasar Kimia

 

BAHAN AJAR

(9)

 

Mata Pelajaran             : Kimia

Kelas / Semester          : X / 1

Standar Kompetensi     :

2.     Memahami hukum-hukum dasar kimia dan penerapannya dalam perhitungan kimia (stoikiometri)

Kompetensi Dasar         :

2.2 Membuktikan dan mengkomunikasikan berlakunya hukum-hukum dasar kimia melalui data percobaan serta menerapkan konsep mol dalam menyelesaikan perhitungan kimia

Indikator                     :

2.2.1       Membuktikan hukum lavoisier melalui data percobaan

2.2.2      Membuktikan hukum Proust melalui data percobaan

2.2.3      Menganalisis data percobaan pada senyawa untuk membuktikan berlakunya hukum perbandingan (hukum Dalton)

2.2.4      Menggunakan data percobaan untuk membuktikan hukum perbandingan Volum (hukum Gay Lussac)

2.2.5      Menggunakan data percobaan untuk membuktikan hukum-hukum Avogadro

Alokasi Waktu : 6 JP

Tujuan Pembelajaran    :

Membuktikan hukum-hukum dasar kimia dengan cara menafsirkan data-data percobaan

Materi Pokok                : HUKUM-HUKUM DASAR KIMIA

Materi Ajar                  :

A.      Hukum kekekalan Massa (Hukum Lavoisier)

B.      Hukum Perbandingan Tetap (Hukum Proust)

C.      Hukum Kelipatan Berganda ( Hukum Dalton)

D.      Hukum Perbandingan Volume (Gay Lussac)

E.       Hipotesis Avogadro

 

URAIAN MATERI

 

A.    Hukum Kekekalan Massa (Hukum Lavoisier)

Antoine Laurent Lavoisier (1743-1794) melakukan beberapa penelitian terhadap terhadap proses pembakaran beberapa zat. Dalam percobaan tersebut diamati proses reaksi antara raksa (merkuri) dengan oksigen untuk membentuk merkuri oksida yang berwarna merah dan diperoleh data sebagai berikut:

Logam Merkuri + gas oksigen       merkuri oksida

   530 gram         42,4 gram                 572, 4 gram

Jika merkuri oksida dipanaskan akan menghasilkan logam merkuri dan gas oksigen

Merkuri oksida        logam merkuri     +  gas oksigen

  572,4 gram                42,4 gram               530 gram

Dari hasil percobaan itu, maka Lavoisier mengemukakan hukum kekekalan massa atau hukum Lavoisier yang menyatakan bahwa:

Didalam suatu reaksi kimia, massa zat-zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama

Contoh:

1.     logam magnesium seberat 4 gram dibakar dengan gas oksigen akan menghasilkan magnesium oksida padat. Jika massa oksigen yang digunakan 6 gram, berapakah massa magnesium oksida yang dihasilkan?

 

 

Jawab:

Logam magnesium    +   gas oksigen       magnesium oksida

 4 gram                             6 gram                    10 gram

 

2.     Sejumlah logam besi dipijarkan dengan 3,2 gram belerang menghasilkan 8,8 gram senyawa besi(II)sulfida. Berapa gram logam besi yang telah bereaksi?

Jawab:

Logam Besi    +       belerang                besi(II)sulfida

          . . .                         . . .                              . . .

          . . .  gram               . . .   gram                   . . . gram

       

B.     HukumPerbandingan Tetap (Hukum Proust)

Joseph Proust (1754-1826) melakukan eksperimen, yaitu mereaksikan unsur hidrogen dan unsur oksigen.

Hasil eksperimen Proust

Massa hidrogen yang direaksikan

(gram)

Massa oksigen yang direaksikan

(gram)

Massa air

yangterbentuk

(gram)

Sisa hidrogen atau oksigen

(gram)

Perbandingan

 

Hidrogen : oksigen

1

2

1

2

8

8

9

16

9

9

9

18

0

1 gram hidrogen

1 gram oksigen

0

1 : 8

1 : 8

1 : 8

1 ; 8

Ia menemukan bahwa unsur hidrogen dan unsur oksigen selalu bereaksi membentuk senyawa air dengan perbandingan massa yang selalu tetap, yakni 1 : 8  

            Massa hidrogen  : massa oksigen   =  1 : 8

 

Contoh:

1.     Bila logam magnesium dibakar dengan gas oksigen akan diperoleh senyawa magnesium oksida. Hasil percobaan tertera pada tabel berikut:      

Massa magnesium

(gram)

Massa oksigen

(gram)

Massa

magnesium oksida

(gram)

Sisa magnesium atau oksigen

(gram)

45

12

6

45

8

20

40

16

20

20

10

40

33 gram magnesium

12 gram oksigen

36 gram oksigen

21 gram magnesium

Apakah data diatas menunjukkan berlakunya hukum perbandingan tetap (Proust)?. Jika berlaku berapa perbandingan massa magnesium dan oksigen dalam senyawa magnesium oksida?

 

Jawab:

Massa magnesium

(gram)

Massa oksigen

(gram)

Massa

magnesium oksida

(gram)

Perbandingan

 

Magnesium : oksigen

12

12

6

24

8

8

4

16

20

20

10

40

3 : 2

3 : 2

3 : 2

3 : 2

 

2.     Perbandingan massa unsur oksigen dan hidrogen dalam senyawa air adalah 8 : 1. Jika 100 gram unsur oksigen dan 3 gram unsur hidrogen bergabung membentuk senyawa (air), berapa massa  air yang dihasilkan?, apakah ada zat yang bersisa? Kalau ada berapakah jumlahnya?

·         Jika semua unsur O habis,   maka H yang diperlukan             = 100 gram = 12,5 gram

·         Jika semua unsur H habis,   maka O yang diperlukan             = 3 gram    =  24 gram

 

 

Jawab:

                               Massa O   :   Massa H

                         8        :        1

Mula-mula     100 gram       3 gram

Bereaksi         24 gram       3 gram

      Bersisa         76  gram            -

      Massa air yang terbentuk =   24 + 3  =  27 gram

      Zat yang bersisa adalah oksigen sebayak 76 gram

      

C.     Hukum Kelipatan Berganda (Hukum Dalton)

Hukum Proust dikembangkan lebih lanjut oleh para ilmuwan untuk unsur-unsur yang dapat membentuk lebih dari 1 jenis senyawa. Salah seorang diantaranya adalah John Dalton (1766-1844). Dalton mengamati adanya suatu keteraturan yang terkait dengan perbandingan massa unsur-unsur dalam suatu senyawa.

Hasil percobaan Dalton

Jenis senyawa

Massa nitrogen yang direaksikan

Massa oksigen yang direaksikan

Massa senyawa yang terbentuk

Nitrogen monoksida

Nitrogen dioksida

0,875 gram

1,75 gram

1,00 gram

1,00 gram

1, 875 gram

2,75 gram

 =

Dengan massa oksigen sama, ternyata perbandingan massa nitrogen dalam senyawa nitrogen di oksida dan nitrogen monoksida adalah …..

  Massa nitrogen dalam senyawa nitrogen dioksida  

Massa nitrogen dalam senyawa nitrogen monoksida

 

Berdasarkan hasil percobaannya, Dalton menemukan Hukum Kelipatan berganda (Hukum Dalton) yang berbunyi:

Jika dua unsur bergabung membentuk lebih dari satu jenis senyawa, dan jika massa-massa salah satu unsur-unsur dalam senyawa tersebut sama, sedangkan massa-massa unsur lainnya berbeda, maka perbandingan massa unsur lainnya dalam senyawa-senyawa tersebut merupakan bilangan bulat sederhana.

 

Contoh:

  1. Seorang ahli kimia mereaksikan unsur karbon dan unsur oksigen. Massa karbon yang direaksikan tetap, sedangkan massa oksigen yang divariasi. Diakhir reaksi, ia memperoleh dua jenis senyawa yang berbeda. Komposisi karbon dan oksigen dalam senyawa pertama adalah 42,9% karbon dan 57,1% oksigen. Sedangkan komposisi pada senyawa kedua adalah 27,3c% dan 72,2%. Tunjukkan bahwa perbandingan massa unsur oksigen dalam kedua senyawa ini sesuai dengan Hukum kelipatan Berganda?

Jawab:

Umpama terdapat 100 gram senyawa I dan 100 gram senyaw II

Jenis senyawa

Massa senyawa

Massa karbon

Massa oksigen

Massa karbon : massa oksigen

Senyawa I

Senyawa II

100 gram

100 gram

42,9 gram

27,3 gram

57,1 gram

72,7 gram

42,9 : 57,1  =  1  : 1,33

27,3 : 72,7  =  1  : 2,66

Perbandingan massa oksigen dalam kedua senyawa  =  

=    = 

 

Perbandingan oksigen dalam senyawa II

Perbandingan oksigen dalam senyawa I

 

Perbandingan massa oksigen dalam kedua senyawatersebut adalah bilangan bulat sederhana, sesuai dengan Hukum Kelipatan Berganda

  1. Reaksi antara unsur belerang dan unsur oksigen menghasilkan dua jenis senyawa dengan komposisi seperti tertera pada tabel berikut. Tunjukkan bahwa perbandingan massa oksigen dalam kedua senyawa sesuai dengan hukum kelipatan Perbandingan.

Jenis senyawa

Unsur belerang

Unsur oksigen

Senyawa I

Senyawa II

50%

40%

50%

60%

 

Jawab :

Jenis senyawa

Unsur belerang

Unsur oksigen

Perb. Belerang : oksigen

Jika oksigen tetap

Senyawa I

Senyawa II

50%

40%

50%

60%

1 : 1

2 : 3

2 : 2

2 : 3

Jika belerangnya tetap, perbandingan massa oksigen dalam senyawa II dan senyawa I adalah      2 : 3

 

D.    Hukum Perbandingan Volume (hukum Gay Lussac)

Dikemukakan oleh Joseph Gay Lussac (1778-1850), ia berhasil melakukan eksperimen terhadap sejumlah gas dan memperoleh data sebagai berikut:

2 liter gas hidrogen + 1 liter gas oksigen  2 liter uap air

1 liter gas nitrogen + 3 liter gas hidrogen  2 liter gas amonia

1 liter gas hidrogen + 1 liter gas hidrogen  2 liter gas hidrogen klorida

Dari percobaan ini gay Lussac merumuskan hukum perbandingan Volume yang berbunyi:

Pada suhu dan tekanan yang sama, volum gas-gas yang bereaksi dan volum gas-gas hasil reaksi berbanding sebagai bilangan bulat sederhana

Jika dihubungkan dengan koefisien reaksi, maka

Hidrogen    +     oksigen       uap air

     H2         +         O2             H2O    

Setarakan   :        2 H2         +         O2             2H2O  

Perb. Koef  :            2           :          1          :           2

Gay lussac   :      2 liter        :        1  liter   :        2 liter

Perb. Volum :           2           :          1          :            2

Kesimpulan :

                  Perb. Koef = perb. Volume

                    =   

Contoh:

1.     Pada reaksi: N2 (g)  +   3 H2 (g)         2 NH3 (g), apabila tiap-tiap gas diukur pada suhu dan tekanan yang sama, bagaimanakah perbandingan gas-gas yang bereaksi dan hasil reaksi?

Jawab :

N2 (g)  +   3 H2 (g)         2 NH3 (g)

            Perb. Koef   :        1       :       3            :          2

            Perb.volume :        1       :       3            :          2

 

2.     Gas hidrogen  yang volum nya 10 liter direaksikan dengan gas oksigen yang volumnya 10liter membentuk uap air dengan persamaan reaksi:

2 (g)        +       O2 (g)            H2O (g)

Bila diukur pada suhu dan tekanan yang sama, berapa volum maksimum uap air yang dapat dihasilkan?

Jawab:

 

 

  H­2 (g)        +       O2 (g)            H2O (g)

            Setarakan   :    2H­2 (g)        +       O2 (g)          2 H2O (g)

Perb. Koef   :        2          :          1            :          2

Volume         :    10 liter     :         10 liter             ?

Bereaksi      :        . . .                    . . .                   . . .

 

 

 

E.     Hipotesis Avogadro

Hasil percobaan Gay Lussac menunjukkan:

1  Volum  hidrogen  +  1   volum klorin      2 volum hidrogen klorida,   

1 liter    hidrogen    +  1   liter   klorin     2 liter hidrogen klorida,  jika dianggap atom maka,

1  atom hidrogen     +  1 atom korin         2  atom hidrogen klorida,  

jika diterapkan pada hidrogen dan oksigen, maka…

2 volum hidrogen  + 1 volum oksigen        2 volum air,

2 liter hidrogen   +  1 liter oksigen           2 liter air,

1 liter  hidrogen   +  ½ liter oksigen          1 liter air, jika dianggap atom, maka

1 atom hidrogen   +  ½ atom hidrogen   →    1 atom air

 

        Konsep setengah atom bertentangan dengan teori atom dalton, untuk menghindari hal tesebut amanda avogadro mengusulkan,

                  Gas hidrogen   +  gas oksigen    air

                     2 molekul        1 molekul          2 molekul

                     1 molekul        ½ molekul          1 molekul

 

 

Hipotesis Avogadro,

“Pada suhu dan tekanan yang sama semua gas yang volumnya sama akan mengandung jumlah molekul yang sama”

Menurut Avogadro unsur yang berwujud gas umumnya merupakan molekul dwiatom atau di atom

Gas hidrogen    +    gas oksigen          uap air

1 molekul               1  molekul               2 molekul

Perb. Molekul :        1                :               1             :             2

Perb. Koef     :         1                :               1             :             2

Kesimpulan:

jika diukur pada suhu dan tekanan yang sama, perbandingan volum gas-gas yang bereaksi dan gas-gas hasil reaksi akan sama dengan perbandingan jumlah molekulnya dan sama pula dengan perbandingan koefisiennya”

 Sehingga:

  =    = 

Contoh:

Pada suhu dan tekanan tertentu setiap 1 liter gas nitrogen akan tepat bereaksi dengan 3 liter gas hidrogen membentuk 2 liter gas amonia, tentukan rumus molekul amonia,

Jawab:

Gas nitrogen   +   gas hidrogen       amonia

                        N2  (g)      +     3 H2 (g)                2 NxHy (g)

Jumlah atom:

                    N,      2                                    =          2x,    X  =  1                                         

                    H,      2×3                                =          2y,    Y  =   6/2

                                                                                            =    3

Jadi rumus nya, NxHy       N1H3   atau NH3

Latihan


  1. Bila 18 gram glukosa dibakar dengan oksigen dihasilkan 26,4 gram gas karbondioksida dan 10,8 gram uap air. Berapa gram oksigen yang diperlukan pada pembakaran tersebut?

 

  1. Perbandingan massa karbon terhadap oksigen dalam karbon dioksida adalah 3 : 8. berapa gram karbon dioksida dapat dihasilkan apabila direaksikan:

a.     6 gram karbon dengan 16 gram oksigen

b.     6 gram karbon dengan 8 gram oksigen

c.     3 gram karbon dengan 10 gram oksigen

d.     6 gram karbon dengan 10 gram oksigen

 

  1. Dalam  senyawa AB perbandingan massa A : massa B = 2 : 1. jika terdapat 120 gram senyawa AB, tentukan massa masing-masing unsur dalam senyawa tersebut.

 

  1. Unsur X dan Y membentuk dua senyawa masing-masing mengandung  60% dan 50% unsur X, tentukan perbandingan massa unsur Y pada X tetap.

 

  1. Setiap 2 liter gas nitrogen tepat habis bereaksi dengan 3 liter gas oksigen dan dihasilkan 1 liter gas oksida nitrogen. Jika volum diukur pada suhu dan tekanan yang sama, tentukan rumus molekul oksida nitrogen tersebut.
  2. Gas hidrogen yang volumnya 10 liter direaksikan dengan gas oksigen yang volumnya 10 liter membentuk uap air dengan persamaan reaksi :

H2 (g)     +    O2 (g)    →H2O (g)

Bila volum diukur pada suhu dan tekanan yang sama, berapa volum maksimum uap air yang dihasilkan?

 

  1. Berapa liter gas oksigen yang diperlukan untuk membakar 5 liter gas butana (C4H10) agar semua gas butana tersebut habis bereaksi.

Reaksi yang terjadi:

C4H10 (g)   +  O2 (g)      CO2  (g)   +    H2O  (g)


 

“Selamat belajar, semoga sukses”

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}
table.MsoTableGrid
{mso-style-name:”Table Grid”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-unhide:no;
border:solid windowtext 1.0pt;
mso-border-alt:solid windowtext .5pt;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-border-insideh:.5pt solid windowtext;
mso-border-insidev:.5pt solid windowtext;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

BAHAN AJAR

(13)

Mata Pelajaran             : Kimia

Kelas / Semester          : X / 2

Standar Kompetensi     :

2.     Memahami sifat-sifat larutan elektrolit dan non-elektrolit, serta reaksi oksidasi dan reduksi.

Kompetensi Dasar         :

3.1.  Mengidentifikasi sifat larutan elektrolit  dan non-elektrolit berdasarkan data hasil percobaan.

Indikator                     :

3.1.1        Melaksanakan percobaan untuk mengidentifikasi sifat-sifat larutan elektrolit dan non-elektrolit.

3.1.2       Mengelompokkan larutan kedalam larutan elektrolit dan non-elektrolit berdasarkan sifat hantaran listriknya.

3.1.3       Menjelaskan penyebab kemampuan larutan elektrolit menghantarkan arus listrik

3.1.4       Mendeskripsikan bahwa larutan elektrolit dapat berupa senyawa ion dan senyawa kovalen polar.

Alokasi Waktu : 3 JP

Tujuan Pembelajaran    :

1.     Siswa dapat mengidentifikasi larutan elektrolit dan non-elektrolit melalui percobaan

2.     Siswa dapat mengelompokkan larutan kedalam larutan elektrolit dan non-elektrolit berdasarkan sifat hantaran listriknya.

3.     Siswa dapat menjelaskan mengapa larutan elektrolit bisa menghantarkan arus listrik

4.     Siswa dapat mendeskripsikan bahwa larutan elektrolit dapat berupa senyawa ion dan senyawa kovalen.

 

Materi Pokok                : Larutan Elektrolit dan Larutan Non-Elektrolit

Materi Ajar                  :

A.      Pengertian larutan elektrolit dan Non-elektrolit

B.      Senyawa Ion dan senyawa kovalen Polar

 

LARUTAN NON-ELEKTROLIT DAN LARUTAN ELEKTROLIT

 

A.      Pengertian Larutan Elektrolit dan Non-Elektrolit

Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik, sedangkan larutan Non-Elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik. Hantaran listrik dapat ditunjukkan oleh alat uji elektrolit.

Perbedaan larutan Elektrolit kuat, elektrolit lemah dan non-elektrolit dengan menggunakan alat uji elektrolit.

v  Elektrolit kuat             : lampu akan menyala terang, disekitar elektrode terdapat gelembung gas yang banyak.

v  Elektrolit lemah           : lampu menyala redup/tidak menyala sama sekali teapi ada gelembung-gelembung gas disekitar elektrode.

Contohnya Larutan yang berasal dari:

v  Non-elektrolit              : lampu tidak menyala dan tidak terdapat gelembung gas disekitar elektrode

Mengapa larutan elektrolit dapat mengahantarkan listrik?

Pada tahun 1884, svante Arrhenius mengajukan teorinya, bahwa dalam larutan elektrolit yang berperan menghantarkan arus listrik adalah partikel-partikel bermuatan (ion) yang bergerak bebas didalam larutan. Bila kristal NaCl dilarutkan dalam air,maka oleh pengaruh air NaCl terdisosiasi(terion) menjadi ion positif Na + (kation) dan ion negatif Cl- (anion) yang bergerak bebas. Ion-ion inilah yang bergerak sambil membawa muatan listrik ke dua ujung kawat (kutup elektrode) alat uji elektrolit. Dimana “ion-ion positif bergerak menuju kekutup negatif dan ion-ion negatif akan akan bergerak kekutup positif”.

Jadi, suatu zat dapat terurai menjadi elektrolit bila didalam larutannya zat tersebut terurai menjadi ion-ion yang bebas bergerak.

 

B.      Senyawa ion dan senyawa kovalen polar

Zat elektrolit dapat berasal dari senyawa ion atau beberapa senyawa kovalen yang didalam larutan dapat terurai menjadi ion-ion.

  1. Senyawa Ion

Senyawa ion sendiri dalam keadaan kristal sudah sebagai ion-ion, tetapi ion-ion itu terikat satu sama lain dengan kuat dan rapat, sehingga tidak dapat menghantar listrik.

Sebaliknya, bila senyawa ion tersebut dalam bentuk leburan atau larutan, maka ion-ion nya akan bebas bergerak, sehingga dapat menghantarkan  listrik. Pada proses pelarutan, ion-ion yang terikat dan tersusun rapat tersebut akan tertarik oleh molekul-molekul air, dan akan menyusup disela-sela  butir-butir ion tersebut (proses hidrasi) yang akhirnya akan terlepas satu sama lain dan menyebar diantara molekul-molekul air. Peristiwa  peruraian tersebut dapat dituliskan dengan persamaan reaksi:

NaCl (aq)        Na+ (aq)    +    Cl­-  (aq)

Contoh:

  1. Senyawa Kovalen

Senyawa kovalen yang dapat menghantarkan arus listrik adalah senyawa kovalen polar  contohnya:

HCl (aq)      H­+ (aq)     +   Cl- (aq)

 

v  Elektrolit dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:

a.     Elektrolit kuat adalah zat-zat yang dalam air akan terurai seluruhnya menjadi ion-ionnya  atau terionisasi sempurna dengan  (derajat ionisasi) = 1

 =

Daya hantar listrik pada elektrolit kuat sangat tinggi, sehingga nyala lampu akan terang bila arus listrik yang dihubungkan kelampu dilewati elektrolit ini.

Contoh-contoh elektrolit kuat:

Asam-asam  kuat          : asam halogen : HCl, HBr, HI

  Asam oksi       : HNO3, H2SO4

Basa-basa kuat             : basa-basa alkali          : NaOH,  KOH, LiOH, Sr(OH)2, Ba(OH)2

Hampir semua garam     : NaCl, KCl, KBr, CaCl2, MgCl2

b.     Elektrolit lemah

Elektrolit lemah adalah zat-zat yang dalam air tidak seluruhnya atau sebagian terurai menjadi ion-ionnya atau terionisasi sebagian dengan

Contoh elektrolit lemah:

Asam atau basa lemah  yang tidak termasuk elektrolit kuat     

·          Asam lemah      : CH3COOH, HCOOH, HF dan H2CO3

·          Basa Lemah      : NH4OH

Garam-garam merkuri (II)        : HgCl2 dan Hg(NO)3

v  Larutan non-elektrolit

Larutan non-elektrolit adalah larutan yang tidak dpt menghantarkan arus listrik. Zat-zat non elektrolit dalam air tidak dapat terionisasi( = 0)

 

 

Latihan:

  1. Percobaan pengujian larutan dengan alat uji elektrolit didapatkan hasil sebagai berikut:

Larutan

Lampu

Elektrode

A

B

C

D

E

Menyala

Tidak menyala

Tidak menyala

Tidak menyala

Menyala

Banyak gelembung gas

Banyak gelembung gas

Tidak ada gelembung gas

Sedikit gelembung gas

Banyak gelembung gas

Berdasarkan data diata, tunjukkan manakah larutan elektrolit, elektrolit kuat, elektrolit lemah, dan non elektrolit. Jelaskan!

 

  1. Tuliskan reaksi ionisasi dari larutan  K2SO4 , HNO3, Fe2(SO)3  dan Ba(NO3)2  dan tentukan jumlah ionnya!
 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: